KEISTIMEWAAN HUSNUL KHOTIMAH

Penulis Asli : Andre Raditya

Alhamdulillah, puji syukur kepada Alloh Azza wa jala atas segala nikmat, atas segala kelapangan, kemudahan dan iman dalam hati. Yang dengan itu kita semua merasakan kebaikan hidup di dunia.

Sholawat dan salam, semoga selalu tercurah pada baginda Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam, kepada para keluarganya, para sahabatnya, dan semoga kita termasuk umat beliau yang mendapat Syafa’at. Aamiin

Bismillahirrahmanirahiim.. kita mulai Kajian Kamis kita hari ini. Semoga antum tidak bosan.


Waktu-waktu terakhir, kita semua sedang begitu sering mendengar kabar kematian. Yang dekat maupun yang jauh, yang kenal maupun yang tak kenal. Dan sebagian besarnya, adalah kabar yang mengejutkan karena begitu mendadaknya.

Maka hari ini kita akan membahas topik yang agak ngeri, tapi harus kita bahas karena hal di atas. Yaitu Husnul Khotimah.

Bagi kaum muslimin, tentu kata Husnul Khotimah adalah kata yang sangat sering di dengar. Setiap mendengar kabar meninggal dunia, kita melihat banyak orang yang mendoakan demikian atau menuliskan demikian sebagai bagian dari rangkaian doanya untuk si mayit.

Kenapa sih Husnul Khotimah begitu diidamkan..?? apa keistimewaannya??

Sedikit kita akan membahas ini.

1. Husnul Khotimah adalah awal dari semua kebaikan.

Loh.. nggak salah nulis ustadz?? Kok awal??

Iya, benar. Husnul Khotimah memang diartikan sebagai akhir yang baik. Tapi sejatinya, ini adalah awal yang baik dilihat dari dimulainya perjalanan kita yang sebenarnya.

Kawan-kawan yang dirahmati Alloh.. mari sejenak kita lihat perjalanan kehidupan manusia.

⬇️⬇️⬇️

Diciptakan di alam ruh – di alam rahim – lahir di dunia – mati dan perpindah ke alam kubur – kiamat – Hari dibangkitkan – Dikumpulkan di padang mahsyar (fase syafa’at) – Yaumul Hisab – penyerahan catatan amal buruk dan baik – Yaumul Mizan – melewati jembatan Sirat – Surga/ Neraka.

Kawan.. lihat bagian yang saya tebalkan. Disitulah sekarang kita. Perjalanan kita masih teramat panjang.

Maka predikat Husnul Khotimah, sesungguhnya adalah awal yang baik bagi perjalanan kita yang sebenarnya. Sebab dunia ini hanya tempat mengumpulkan bekal. Ibarat lomba, dunia adalah ruang persiapan. Belum jadi bagian dari perjalanan yang sebenarnya.

Begitu nyawa dicabut, itulah tanda start kita sesungguhnya.

Sehingga seorang Mukmin harus punya prinsip hidup demikian..
bahwa sesukses apapun dan sehebat apapun kita di dunia, semua tidaklah ada artinya jika pada akhirnya kita Su’ul Khotimah (meninggal dalam keadaan buruk).

Sebab ukuran sukses seorang Mukmin adalah ketika ia Husnul Khotimah. Dan ini adalah ukuran terbaik dalam mengukur pencapaian di dunia.

2. Seistimewa apa Husnul Khotimah?

Tidak mungkin seseorang menginginkan berlian jika ia tidak tahu betapa bagus dan betapa mahalnya berlian.

Kita mungkin sering mendengar Husnul Khotimah, tapi jangan-jangan, kita termasuk yang tidak mengetahui dahsyatnya keistimewaan dan kemuliaan husnul Khotimah.

Yuk kita simak..

Ketika seseorang berakhir dalam keadaan yang baik maka ia akan diberikan taufiq untuk menjauhi semua yang dilarang oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.

Sebagaimana hadist Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam, dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, ia berkata,

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada hambaNya, Ista’malahu”.

Para sahabat bertanya, ”apa itu Ista’malahu?”

Rasulullah menjawab, ”Alloh akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal (lalu mewafatkannya – red).” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak.)

Lalu apa sih keistimewaan diwafatkan dalam keadaan melakukan amal shalih??

Kita simak hadits nabi yang lain..

Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barang siapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barang siapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.” (HR. Abu Ya’la).

Allohu akbar..!!!

Kebayang ya kawan-kawan, betapa hebatnya kematian Husnul Khotimah.

Maka, kalau boleh saya jabarkan secara bebas, begini..

• Barang siapa yang sedang sholat, lalu ia mati.. maka selama di dalam kubur sejak mati sampai dibangkitkan, ia akan terus terhitung melakukan sholat. Tak berhenti baginya pahala sholat meski sekejap mata. Terus mengalir hingga ia dibangkitkan.

• Barang siapa yang keluar rumah dengan niat mencari ilmu, mencari nafkah, silaturahim, lalu ia meninggal. Maka selama di dalam kubur sejak mati sampai dibangkitkan, ia akan terus terhitung melakukan amal tersebut. Tak berhenti baginya pahala mencari ilmu, atau mencari nafkah atau menjalin silaturahim, tak berhenti meski sekejap mata. Terus mengalir hingga ia dibangkitkan.

Itulah kenapa kita mengharapkan kematian yang Husnul Khotimah. Sebab disitulah kenikmatan bermula.

Jika jarak kematian kita dengan kiamat adalah 1000 tahun, maka selama itu kita akan terhitung beramal dengan amalan yang terakhir.

Jika jarak kita dengan kiamat 10.000 tahun, maka selama itulah pahala kita akan terus mengalir melalui amalan yang terakhir.

Maka, kawan-kawan yang dirahmati Alloh, pelajaran dari 2 hadits di atas adalah.. jangan sampai kita ini jadi orang yang ketika diberi kesempatan oleh Alloh beramal sholeh malah mengeluh. Sebab siapa tahu, itu adalah amalan terakhir kita.

Misal nih.. ada tetangga yang butuh bantuan, ternyata ditakdirkan minta tolongnya ke antum. Eittss jangan ngeluh. Itu tanda Alloh sayang sama kita.

Sebab kadang kita ini nggak sengaja ngeluh saat beramal..
“Padahal si anu itu kan lebih kaya, kok nggak ke dia, malah minta tolong ke kita.”

Itu Misal saja. Ini jenis perkataan yang tidak memahami bahwa dirinya sebenarnya sedang dipilih oleh Alloh.

Ada kesempatan sedekah, ada kesempatan melakukan kebaikan kok kita yang dapat??

Maka mikirnya sekarang harus gini, kok bisa kesempatan ini datang ke saya, padahal banyak orang yang lebih kaya dari saya. Kawan, bisa jadi itulah cara Alloh mengisi hari kita dengan amal sholih.

3. Husnul Khotimah itu butuh Persiapan, Pembiasaan dan Diminta.

Sebab setiap orang akan diwafatkan dengan kebiasaannya ketika hidup. Dan dibangkitkan sesuai apa yang terakhir kita kerjakan.

Bisa jadi, Alloh saat ini sedang mempersiapkan kita dengan mengisi hari-hari kita dengan ragam kebaikan sebelum diwafatkan.

Dan hadis riwayat Imam Ahmad Bin Hambal dari Jabir Bin Abdullah:

“Siapa saja yang mati dalam keadaan mengerjakan sesuatu, maka dalam kondisi demikian ia akan dibangkitkan dari kuburnya.” (Musnad Imam Ahmad hadis no; 14373).

Naudzubillah, semoga kita bukan tergolong orang yang meninggal dalam keadaan Su’ul Khotimah (akhir yang buruk) yang ketika meninggal sedang dalam keadaan mengerjakan keburukan sebab kebiasaan semasa hidup adalah melakukan hal buruk.

Maka, biasakanlah amal sholeh dan bercita-citalah untuk selalu Husnul Khotimah. Dan mintalah kepada Alloh untuk itu dengan berdoa agar diberi akhir yang baik. Salah satunya dengan doa di bawah ini..

“Allahummaj’al khayra ‘umri akhirahu, wakhaira ‘amali khawatimahu, wa khaira ayyami yauma al-qaka”.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan jadikan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikan sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat). (HR Ibnu As-Sunni). 

Dan biasakanlah melakukan setiap dorongan amal dalam hati. Sebab bisa jadi itu adalah Taufik Alloh untuk kita.

Demikianlah kawan-kawan, pembahahasan kita tentang Husnul Khotimah. Saya tidak membahas tanda-tandanya, karena sudah banyak dibahas oleh para ulama dan artikelnya pun sudah banyak bertebaran.

Yang tentu, salah satunya adalah ketika kelak di akhir hayat kita bisa mengucapkan “Laa ilaha ilallah..”

Sebagaimana hadits berikut,
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat ‘laa ilaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

Dan kembali lagi, bisa mengucapkan laa ilaha ilallah pun dimulai dari kebiasaan menyebut asmaNya, lewat berdzikir, sholat dan membaca Al Qur’an.

TUJUAN HIDUP KITA ITU HANYA 2

Penulis Asli : Andre Raditya

Alhamdulillah.. puji syukur hanya milik Alloh Rabbul ‘alamin, atas segala apa yang diciptakanNya dan atas segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaanNya.
Sholawat serta salam kita sampaikan kepada baginda Rasulullah Sholalllahu’alaihi wassalam.. kepada para keluarga dan sahabatnya yang mulia. Dan semoga kita kelak mendapatkan syafa’at beliau di yaumul qiyamah.

Bismillahirrahmanirahiim..
Tulisan kali ini, saya dedikasikan untuk kawan-kawan yang tengah mengalami kebingungan. Tentang apa sih sebenarnya tujuan hidup.
Kok kayaknya hidup gini-gini aja..
Banyak problem, masalah, sering sempit pikiran, hati rasanya gelisah terus..
Sedih sering berkunjung.

Kalau itu yang sering antum rasakan.. baca ini sejenak.

Sebelum itu.. izinkan saya mengingatkan. Bahwa selama bulan Muharrom ini, SiJum sedang menggerakkan satu program lain khusus untuk Berbagi hadiah kepada 1000 Anak Yatim. Alhamdulillah jika antum bisa terlibat..

Lengkapnya.. bisa cek di link berikut:
https://ayobuatbaik.com/galangdana/sejuta-kado-cinta-untuk-yatim-bersama-sijum

Mari kita lanjutkan kajian kamisnya.

Kawan-kawan yang dirahmati Alloh, pertama.. kita perlu melihat dulu tujuan besar kita diciptakan. Tentu antum sekalian sudah tahu bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Alloh.

“Tidak Aku (Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az Zariyat: 56)

Dan lewat ayat itu..
Saya menjabarkannya secara aplikatif kepada 2 hal ini.

Bahwa Sejatinya..
Setiap hari kita bangun hanya untuk 2 hal.

  1. Menyaksikan kebesaran Alloh.
  2. Dan menunjukkan kepada orang lain tentang kebesaran Alloh.

Bahwa hidup kita itu dipakai sebagai persaksian. Dan itulah sejatinya hidup kita.

Karena sebenarnya, dulu kita pernah bersaksi,
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (QS. Al-A’raf: 172)

Dan setiap saat, harusnya itulah yang kita ingat dan lakukan.
Sampai Alloh berulang bertanya untuk mengingatkan.. diantaranya.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al Ghaasyiah: 17-20)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka kepingan-kepingan dari langit. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Saba’ : 9)

Dan Rasulullah Sholalllahu’alaihi wassalam pun bersabda serupa..
“Berpikirlah kamu akan ciptaan-ciptaan Alloh, dan jangan kamu berpikir tentang Dzat Alloh.” (HR. Ath-Thabrani)

Kita itu diminta menyaksikan kebesaran Alloh. Maka seharusnya tugas kita adalah memakai semua pikiran dan sumber daya untuk itu. Inilah syahadat. Bersaksi untuk menyaksikan.

Maka..
Sholatmu.. itu untuk mengakui kebesaran Alloh.
Syukurmu, istighfarmu, dzikirmu..
Saat kamu mendengar, melihat, makan, tidur, berkeringat, bergerak.. itu semua sejatinya adalah untuk melihat kebesaran Alloh.

Bahwa itu semua bisa terjadi karena Alloh yang menciptakan dan membuatmu bisa demikian. Semua adalah karunia besar yang tidak mungkin kita dapatkan dengan menciptakannya sendiri.

Saat antum memilih pasangan.. itupun harus dimaknai menyaksikan kebesaran Alloh.

“Masyaallah.. kok ada perempuan cantik dan baik begini ditakdirkan jadi istri saya..”
“Masyaallah.. kok ada laki-laki baik dan sholeh begini dijodohkan untuk saya..”

Ngeliat anak juga gitu..
“Masyaallah.. ini anak pinter karunia Alloh. Aku bersaksi Engkau memang hebat ya Alloh..”

Ngeliat ayam goreng, Sayur yang mau dimakan. Nasi, air minum. Atau apapun itu. Lihat bahwa itu kebesaran Alloh.

Melihat bintang, bulan, matahari..
Kalau pas piknik lihat gunung, bukit, pantai, sungai dan beragam keindahan alam. Jangan hanya sekedar nenangin pikiran dan nyenengin badan.

Tapi dipikir betul.. bahwa itu semua nggak mungkin ciptaan makhluk. Atau malah cuma sekedar kebetulan.

“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasangan. Alloh menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS Ar Ra’d: 3).

Setelah menyaksikan kebesaran Alloh. Tugas kedua adalah menunjukkan kepada orang lain tentang kebesaran Alloh yang kita saksikan.

Maka saat kamu berbuat baik.. itu sejatinya untuk menunjukkan kebesaran Alloh kepada orang lain.

Ibarat nonton Film kok bagus.. pasti kita pingin cerita ke teman. Merekomendasikan, ini lho, film buaguss bingit.

Perhatikan..!!
Sehingga salah kaprah kalau saat kita berbuat baik kok untuk supaya kita disangka kita ini orang baik hati, terus dapat pujian..

Bukan kawan. Itu agar orang lain kemudian bersyukur, bahwa ada makhluk Alloh yang lain yang dikirimkan baginya untuk menolong dan meringankan kesulitannya.

Termasuk ketika kamu jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, baik sama istri, suami, anak, bakti ke orang tua serta baik ke tetangga. Itu sejatinya adalah untuk menunjukkan kebesaran Alloh azza wa jala kepada orang lain.

Karena Alloh telah menciptakan kamu dengan semua kebaikan dalam dirimu.

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?” (QS. Ar Rum: 8)

Lalu kita berbuat baik sebagai bentuk syukur dan menunjukkan kepada orang bahwa,
“Semua yang saya lakukan ini, karena Alloh lho..”

Bahkan saat melihat diri sendiri pun.. itu untuk menyaksikan kebesaran Alloh..
Maka coba perhatikan doa saat bercermin.

“Alhamdulillaah, Allahumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii”
(Segala puji bagi Alloh, Ya Alloh, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku)

Lihat pola doanya..
Pertama, Menyaksikan kebesaran Alloh atas penciptaan. Kedua, minta agar dibaguskan akhlak karena ini berfungsi untuk menunjukkan kepada orang lain tentang kebaikan ajaran Islam.

Dan untuk menunjukkan bahwa kita bisa sebaik ini karena Alloh dan RasulNya memerintahkan lewat agama Islam beragam kebaikan.

Maka saat kita berbuat sesuatu.. itu sejatinya untuk menunjukkan tentang kekuasaan Alloh dan keindahan agama yang diridhoi-Nya.

Tampakkan kebaikan dalam diri yang Alloh sudah berikan.
Yang punya harta, bagikan hartanya.
Punya ilmu, sebarkan ilmunya.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Duha: 11)

Akhirnya hidup kita itu ya hanya berisi 2 hal itu saja. Maka maknai setiap kegiatan ya hanya untuk dua hal di atas.

Sehingga tidak ada lagi..
Aku, Saya, Gue..
Karena kita itu hanyalah Nothing di alam ini. Semua alam ini hanya boleh bicara tentang Alloh saja.. karena Alloh itu Penting dan Everything.

Kalau sudah demikian..
Tak lagi gila pujian, tak pontang penting dikendalikan kebutuhan, nggak diperbudak pekerjaan, nggak bucin berlebihan..
Sebab semuanya hanya untuk menyaksikan kebesaran Alloh, dan untuk menunjukkan kebesaran Alloh.

Dan mohon maaf.. jika saya harus sampaikan ini. Mungkin sedikit tajam bahasanya. Tapi harus..

Orang yang mulai menemukan banyak masalah dalam hidup, hidup mulai kacau, berantakan dan selalu dirundung kelelahan batin hingga akhirnya marah, sedih dan penuh kecewa. Itu bisa jadi karena semesta hidup kita tidak lagi berpusat kepada Alloh, tapi berpusat kepada diri.

Kita tak lagi sibuk memusatkan perhatian ke Alloh. Tapi lebih sibuk membuat diri sebagai pusat dari hidup.

Mikirin diri sendiri terlalu sering. Tapi hak Alloh diabaikan. Lebih seneng mikir diri supaya gimana dikenal, kaya, sukses dan sebagainya. Tapi lupa memikirkan gimana agar saya bisa meninggikan Alloh dalam hidup dan menunjukkan kebesaranNya kepada sekalian alam.

Jadikan Alloh sebagai pusat hidupmu. Maka hidupmu akan lebih ringan.
Dan jika dirimu yang kau jadikan pusat, maka tunggulah datangnya kekacauan dan kerusakannya.