THE ROLLING SHUTTER EFFECT

Seorang lelaki memancing perhatian seekor burung dengan sepotong makanan kecil. Pancingan itu berhasil, si burung terbang mendekati makanan tersebut dan ketika posisinya sudah cukup dekat, lelaki itu dengan cekatan memfoto si burung dengan kamera ponselnya.

Saat ia melihat kembali hasil jepretan fotonya, rupanya burung kecil yang sedang terbang itu juga memantulkan bayangan cermin di kaca spion. Namun yang mengejutkan adalah, posisi bayangan si burung berbeda dengan posisi sebenarnya!

Seolah-olah bayangan di cermin itu bergerak sendiri, padahal sudah jelas ia hanya pantulan dari aslinya. Satu burung yang sama, namun memperlihatkan dua posisi yang berbeda. Benar-benar sebuah misteri!

Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Inilah yang disebut sebagai efek rana bergulir (rolling shutter effect) dari sebuah kamera.

Sederhananya begini, ketika kamera menangkap gambar (rana), cara kerjanya adalah dengan merekam rana tersebut sedikit demi sedikit dari posisi paling atas frame kemudian bergulir terus hingga posisi yang paling bawah frame. Kita tidak menyadari cara kerja ini karena memang terjadi dengan sangat cepat. Bisa mencapai 60 frame per detik.

Hal ini menimbulkan kelemahan jika kamera harus merekam objek yang sedang bergerak lebih cepat dari gerakan bergulirnya rana kamera itu sendiri. Karena bagian atas dari sebuah frame akan terekam lebih dulu meski selisihnya hanya sepersekian detik.

Akibatnya, pantulan bayangan burung terekam lebih dulu dengan posisi kepakan sayap terbuka ke atas, sedangkan burung yang sebenarnya baru terekam sepersekian detik setelah itu dengan posisi sayap yang sedang mengepak ke bawah. Jadilah satu burung yang sama namun memiliki dua posisi berbeda!

Efek rana bergulir, sekali lagi, adalah kelemahan dari cara kerja kamera. Namun pada kasus foto burung di atas, justru karena kelemahan itu maka foto yang dihasilkan menjadi unik dan memancing perhatian banyak orang. Rupanya tidak selamanya kelemahan itu merugikan. Ada saatnya ketika kelemahan justru menguntungkan.

Contohnya seseorang yang terlahir tanpa kedua tangan dan kedua kaki. Fisiknya benar-benar menunjukkan kelemahan dibanding orang lain. Namun ia berhasil mengelola kelemahan itu dengan berlatih public speaking setiap hari.

Ketika berbicara di depan umum, ia mampu meyakinkan orang lain untuk dapat mensyukuri nikmat kedua tangan dan kaki dengan melakukan hal yang terbaik. Dengan kelemahan dirinya, justru ia sukses menjadi motivator kelas dunia. Ia adalah Nick Vujicic.

Jadi apakah kelemahan kita saat ini? Pikirkan bagaimana caranya kita mengelola kelemahan tersebut agar menjadi sebuah hal yang menguntungkan bagi kita. Ingat rolling shutter effect, memiliki kelemahan itu justru keren! Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *